Monday, May 18, 2009

“Pak, kita minggu depan aja berenangnya”, Sebuah Pelajaran Dari Anakku

Minggu kemarin saya sekeluarga pergi ke sebuah hotel, dengan tujuan untuk menikmati promo brunch sebuah kartu kredit dan berenang di kolam hotel tersebut. Reservasi sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan pada saat melakukannya jelas sudah bahwa berenang merupakan bagian dari promo tersebut.

Minggu pagi, anak-anak bersemangat sekali mengetahui bahwa mereka akan diajak berenang, tanpa mengetahui dimana mereka akan melakukannya. Nurut sekali mereka pagi hari itu…hehehehehe.

Sesampai di hotel, kami langsung menuju ke lokasi resto dan menemui waitressnya. Reservasi sudah pasti atau konfirm. Karena waktu penyajian masih lama, seperti rencana semula, kami pun ingin berenang. Entah karena saya salah strategi atau bagaimana, he he he, waitressnya bilang bahwa kolam renang hanya untuk tamu hotel. Betul bahwa promo brunch ini termasuk berenang, akan tetapi voucher berenangnya hanya akan diberikan setelah kami menikmati brunch dan digunakan untuk pada kesesempatan atau kunjungan kami berikutnya. Ini strategi marketing mereka dalam hati saya.

Melihat perubahan muka dan mood anak-anak, maklum mereka nurut sekali pagi hari tadi karena janji berenang itu tadi, saya pun mencoba memutar otak. Sambil berpikir, saya mengajak mereka jalan-jalan di seputaran kolam dan taman, siapa tahu dapat ide brilian.

“Kok cuma muter-muter aja sich Pak?, kapan berenangnya?”, akhirnya saya berikan penjelasan kepada mereka, walaupun saya tahu mereka sendiri mendengar pembicaraan saya dengan waitress tadi, bahwa kita diperbolehkan berenang jika kita mempunyai vouchernya, dan kita belum punya. Itu masalahnya, tapi jangan ngambek dulu, Bapak akan coba cari caranya.

Akhirnya saya dapat caranya. Setelah berdiskusi sebentar dengan penjaga kolam renang, sebuah konsensus berdasar sebuah pengertian pun kami dapatkan, tanpa melibatkan uang, benar-benar bermodalkan sebuah kesepahaman. Saya pun melangkah gembira mendekati anak-anak saya yang duduk di pinggir kolam dengan muka yang ditekuk. “Ayo kita berenang sekarang,” ajak saya. “Emang Bapak punya vouchernya?, nggak punya kan?, udah lah Pak, kita minggu depan aja berenangnya,” kata anak saya. “Nggak papa Nak, Bapak udah bicara-bicara sama abangnya, boleh kok kata dia”, jawab saya mencoba meyakinkannya. “Pak, kan kita nggak punya vouchernya, berarti kita nggak berhak berenang di sini,” diulanginya pernyataan yang sama.

Saya tak mencoba untuk memaksakannya, toh waktu brunch-nya tinggal sebentar lagi, kemudian saya ajak mereka menikmati fasilitas play ground yang ada di sekitar kolam. Bermainlah mereka berdua dengan senangnya, sementara saya berdua dengan ibunya duduk manis di sebuah bangku sambil menikmati sisa pagi hari minggu itu.

Terpikir juga rasa jengkel saya kepada anak-anak, Bapak sama Ibunya sudah berusaha, pengertian dan kesepahaman sudah didapatkan, eeee malah ditolak sama anak-anak dengan alasan hak, sebuah logika sederhana anak-anak, karena tidak punya voucher, berarti tidak berhak.

Di tengah kejengkelan saya, sembari duduk manis bersama istri, saya teringat sebuah cerita. Tentang seorang pensiunan Letnan Kolonel buta yang sangat sinis terhadap lingkungannya dan bahkan dirinya sendiri. Perjalanan karir militernya sudah sedemikian dekat dengan pucuk kekuasaan, karena satu dan lain hal, dia gagal mendapatkannya. Tapi saya tak hendak bercerita tentang pribadi dia. Penolakan anak saya dan pidato si Letnan Kolonel ini yang berkecamuk di pikiran saya.

Seorang anak muda dalam sebuah sidang komite disiplin di tempatnya berkuliah, sebuah tempat kuliah bergengsi, dimana banyak pemimpin negeri telah dilahirkannya. Tuduhannya adalah dia menjadi otak sebuah tindakan yang mempermalukan sang Rektor di depan seluruh isi kampus. Dalam sidang komite disiplin tersebut si Letnan Kolonel sempat memberikan pidato pembelaannya.

“Anak ini tidak mau menjual masa depannya, dan ini saudara-saudara adalah apa yang saya sebut sebagai integritas, keberanian. Sebuah kombinasi dari keduanya yang seharusnya membentuk pemimpin-pemimpin kita. Sudah sering bahkan berkali-kali saya harus berhenti di persimpangan dalam kehidupan saya. Saya selalu tahu dan sadar mana jalan yang benar, tapi saya tak pernah mengambilnya. Anda tahu kenapa?, karena jalan itu terjal dan mendaki. Sementara anak ini, dia sedang berhenti di persimpangan, dia sudah memutuskan jalannya, jalan yang benar, jalan yang dilandasi oleh sebuah prinsip, yang menunjukkan dan membentuk karakternya. Berilah kesempatan padanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya”.

Aaah, akting Al Pacino dalam Scent of a Woman memang sungguh luar biasa dan entah kenapa sangat susah mencari pelajaran seperti itu di tengah hingar bingar politik negeri tercinta. Saya dekati anak saya, saya usap rambutnya, saya pandang kedua matanya, “Nak, terima kasih atas pelajarannya,” sambil saya cium keningnya.

Saya lihat ibunya, jangan-jangan dia juga minta….hahahahahaha

Ini link video speechnya Al-Pacino dalam Scent of a Woman
http://www.youtube.com/watch?v=dH4p9BQ3V9o

2 comments:

Wanderer said...

kalau ngantri tol dalam kota, jangan nyodok
malu sama anak-anak

Den Baguse said...

hehehe, kalo nyang ni kan masuk dalam kriteria kreativitas

Post a Comment