Tuesday, June 30, 2009

Seorang Remaja (dari Cirebon) Bertahun Kemudian

Cirebon, sebuah kota di pantai utara Jawa. Apa coba yang ada di otak anda ketika orang menyebut nama “Cirebon”?. Nasi Jamblang, nasi lengko, empal gentong, tahu gejrot, perkampungan nelayan, kota udang, pemandian air hangat di Kuningan, lapangan terbang Kalijati, you name it. Pendek kata, banyak hal yang bisa diasosiasikan dengan Cirebon.

Semuanya dimulai di abad 14, Muara Jati nama sebuah perkampungan nelayan. Seorang yang bernama Ki Gedeng Tapa dipercayakan menjadi pemimpin perkampungan yang sekaligus menjadi pelabuhan bagi Kerajaan Galuh. Banyak kapal berdatangan, garam, hasil pertanian dan terasi menjadi primadona perdagangan.

Ki Gedeng Tapa juga mendirikan sebuah pemukiman di lemah wungkuk, kurang lebih 5 km selatan Muara Jati. Gelar Kuwu Cerbon diberikan kepadanya. Setelah wafat, kepemimpinannya dilanjutkan oleh menantunya, Walangsungsang, yang kelak diangkat menjadi Adipati Cirebon dengan gelar Cakrabumi.

Kewajiban untuk mengirimkan upeti nampaknya memberatkan bagi Cakrabumi, setelah dirasa kuat secara ekonomi dan militer, dihentikanlah tradisi pengiriman upeti tersebut. Pertempuran terjadi, Cakrabumi memegang kendali. Sebuah Kerajaan baru didirikan dengan nama Cirebon dan gelar barunya pun diumumkan, Cakrabuana.


Karena letaknya yang berbatasan dengan Jawa Tengah, sebagian penduduk Cirebon bisa berbahasa Jawa dan sebagian lainnya berbahasa Sunda. Beberapa dari mereka malah menguasai keduanya. Maka tak heran jika Cirebon juga terkenal dengan sebutan “Caruban”, yang artinya campuran. Ini tentu saja masuk akal, mengingat bahwa penduduk Cirebon merupakan campuran dari keturunan Jawa, Melayu, Sunda, Cina dan Arab, yang tentu saja menciptakan budaya caruban itu tadi.

Sebuah perkampungan nelayan telah berubah menjadi sebuah kota penting kedua setelah Bandung, sebagai ibukota propinsi Jawa Barat. Letaknya yang berada di jalur utama utara pulau Jawa meneguhkan nilai penting dan kestrategisannya.

Kalender penanggalan menunjukan tanggal 5 Agustus 1989. Daerah sekitaran Dago seakan memutih, maklum banyak yang mengenakan seragam putih-putih. Dasi hitam juga tak ketinggalan. Senyum pun bertaburan, maklum hari pertama kuliah, setelah rangkaian panjang kelulusan SMA, UMPTN, daftar ulang akhirnya hari pertama itu pun tiba.

Hari itu juga merupakan hari di mana kesempatan mengenal lebih jauh tentang Cirebon seolah terbuka. Seorang remaja dari Cirebon, tinggi di atas rata-rata, sawo matang, dengan potongan rambut cepak, “njegrak” kata orang jawa, dan senyumnya yang renyah, seakan memberi gambaran yang lain dan mendalam tentang budaya caruban. Logat Sunda yang demikian kentalnya, tapi toh bahasa jawa pun bisa. “Nama saya Gunawan, asli Cirebon, hobi saya main voli” begitu katanya ketika saat perkenalan tiba.

Bola voli di kampus ini seolah selalu didominasi oleh jurusan lain seperti Mesin, Sipil dan Geologi. Tanpa mengecilkan peran anggota tim lainnya seperti Chandra Jamil Dalimunthe, Arnold Makasau Rivai, dlsbg, semenjak bergabungnya Gunawan kedalam tim bola voli HMFT, peta kekuatan itu berubah. Nama HMFT semakin sering terdengar dibicarakan di GKU, Student Centre, dimanapun perbincangan yang menyangkut UBV Cup, sebuah turnamen bola voli tahunan antar himpunan dibicarakan. Saya ingat betul, ketika suatu saat HMFT berhadapan lawan HIMAFI. Setiap saat bola dimenangkan oleh HIMAFI gumaman, “nggak papa toh kita menang teknik”, seringkali terdengar keluar dari kerumunan supporter HMFT seakan membela diri.

Tak cukup hanya di kampus saja, Gunawan juga memberikan kontribusinya di lingkungan tempat tinggalnya. Hampir semua kegiatan seperti peringatan 17-an, Karang Taruna diikutinya dengan sepenuh hati. Kontribusi dan keikhlasannya dalam beraktifitas ini lah yang membuatnya pernah mendapatkan tawaran untuk menjadi RT di lingkungan tempat tinggalnya. Sebuah kehormatan mengingat usianya yang masih tergolong belia dan keengganan hampir setiap orang untuk mengemban kewajiban yang melekat kepadanya.

Tapi hidup memang kadang terasa tidak adil, tapi semangat hidup tetap haruslah tinggi. Kehidupan seperti tidak sedang memihaknya, tapi segala daya dan upaya harus tetap dicoba. Berjualan sepatu doc mart cibaduyut, membuka persewaan computer, manggung sebagai crew karawitan cirebonan di acara kawinan adalah wujud daya dan upaya itu. Adalah wajibnya manusia berusaha, sementara hasilnya, lillahita’ala.

Seruling bambu yang sering dimainkan Gunawan di sela-sela jam kuliah, seperti membantu menjawab keresahan-keresahan hidup dan pada saat yang sama berteriak menantang ketidak berpihakan itu. Merdu mendayu sekaligus mengharu biru.

Harus kita sadari bahwa setiap manusia selalu mempunyai “ruang sunyi” dalam dirinya. Sebuah ruang yang tak semua orang, termasuk kawannya sendiri pun perlu tahu, karena memang “ruang sunyi” itu hanya untuk dirinya dan Sang Maha Sunyi yang memilikinya. Demikian pula dengan Gunawan, tak banyak yang kami tahu.

Doa tulus kami panjatkan, selamat jalan untuk Gunawan, seorang remaja (dari Cirebon) bertahun kemudian.


Read more...

Thursday, June 11, 2009

Adakah JELITA Dari Garut? Kalau JELATA Ada

Keberadaan Kabupaten Garut tak lepas dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels. Alasan Daendels pada saat itu adalah karena produksi kopi yang menjadi andalan menurun drastis sampai ke titik paling rendah. Oleh Raffles, pada tahun 1813, Kabupaten Limbangan dibentuk kembali. Pada saat usaha untuk melakukan pencarian lokasi yang ideal untuk dijadikan sebagai Ibukota Kabupaten, tim ekspedisi, gitu kali ya, menemukan sebuah telaga kecil yang tertutup oleh semak belukar. Seorang anggota tim tergores tangannya. Dalam bahasa lokal, tergores disebut sebagai “kakarut”. Salah satu anggota tim yang berasal dari Eropa bertanya, ‘kenapa tangannya berdarah?”, orang yang tergores menjawabnya,”kakarut”. Lidah orang Eropa berbeda tentunya dan melafazhkan “kakarut” menjadi “gagarut”. Lokasi dimana telaga kecil tersebut ditemukan kemudian disebut sebagai Ci Garut. Seiring perjalanan waktu lebih terkenal dan sering disebut sebagai Garut. Ini sekilas cerita tentang sejarah Garut, seperti yang tertulis di dalam situs resmi pemerintah Kabupaten Garut, dimana di-”header”nya tertulis ungkapan “PEMERINTAH KABUPATEN GARUT in your finger click”.

Terus terang, jarang sekali saya melewati Garut ketika mudik lebaran, sebagai contohnya. Preferensi saya, pas mudik, adalah melewati pantura. Tetapi, pesona Garut, berdasar cerita teman-teman yang sering melewati dan berwisata di sana, terus menggoda saya. Cerita tentang betapa indah dan asyiknya bermain dan bercengkerama dengan ombak di pantai Santolo, berlayar menggunakan rakit ke tengah Situ Bagendit, Sampireun yang menawarkan pengalaman eksotis, dan tentu saja dodol Garutnya. Liburan sekolah besok, mungkin waktu yang tepat untuk menjawab dahaga itu. Anda pernah ke Garut?, bagi-bagi ceritanya dong.

Kembali ke pertanyaan yang merupakan judul dari tulisan ini. Jawabnya ya jelas, tentu saja ada, dengan penuh keyakinan saya menjawabnya. Sudah pasti banyak gadis jelita ada di atau berasal dari Garut. Kalau nggak percaya, sok tanyakeun ka Pak Wakil Bupati Dicky Candra, salah seorang selebriti kita yang berhasil memenangkan pilkada bersama pasangannya, Aceng H.M Fikri, S Ag. Kalau tidak salah Rieke Dyah Pitaloka, si Oneng yang lugu itu, yang besok akan dilantik sebagai anggota DPR RI itu, berasal dari Garut lho. Rieke mestinya bisa menjadi salah satu contoh jelita yang berasal dari Garut, kalau anda masih saja tidak percaya.

Selain dari banyaknya jelita-jelita yang ada di atau berasal dari Garut, tentu saja Garut juga punya jelata. Salah satu jelata dari Garut yang menghebohkan kita semua sekarang ini adalah Siti Hajar. Seorang janda beranak dua, 33 tahun umurnya. Betapa tidak menghebohkan kita semua, jikalau sekujur tubuhnya terlihat mengenaskan. Saya juga tidak bisa membayangkan, apa yang akan saya atau anda lakukan jika selama hampir 3 tahun bekerja, sepeserpun imbalan yang merupakan hak tak pernah diberikan. Siraman air panas dan bentuk penyiksaan lainnya yang justru sering didapatkan. Semoga saja kedua anaknya bisa mengenalinya, ketika bertemu sekembalinya dari Malaysia.

Tolong jawab pertanyaan saya, “apa yang anda lakukan jika gaji anda terlambat diterima?”, terlambatnya nggak usah lama-lama deh, cukup dua minggu saja. Apa yang anda lakukan coba?.

Situs resmi pemerintah Kabupaten Garut juga menyebutkan bahwa pihak keluarga Siti Hajar sedang memproses dokumen keberangkatan mereka ke Malaysia dan biayanya akan ditanggung oleh PJTKI yang memberangkatkannya. Siti Hajar, sementara ini masih berada dalam perawatan sebuah rumah sakit di sana. Kabarnya Dubes kita di Malaysia dan utusan pemerintah pusat sudah menemuinya, seperti yang diberitakan oleh beberapa media masa elektronik. Dalam sebuah wawancara antara utusan pemerintah pusat dan anchor berita sebuah TV swasta, utusan pemerintah pusat menyampaikan bahwa Siti Hajar adalah seorang wanita yang bermental luar biasa. Untuk Siti Hajar, semoga cepat sembuh dan mendapatkan keadilan yang dicari.

Aaaah, pikiran saya tetap saja tak lepas dari pertanyaan, kok bisa ya gaji tidak diterima setelah hampir dua tahun bekerja?, sementara sebuah hadits Nabi mengatakan untuk memberikan upah pekerja sebelum kering keringatnya.


Read more...

Saturday, May 23, 2009

Ini Jelas Kasus “Conflict of Interest” !!!

Teman saya yang satu ini tergolong cemerlang karirnya. Sebut saja namanya Adi, nggak papa kan, kan nggak pakai “h”?. Adi ini termasuk seorang yang loyal terhadap perusahaannya, sebuah perusahaan manufaktur yang tergolong besar di tanah air. Kurang lebih sepuluh tahun dihabiskan karirnya di divisi produksi. Sampai suatu ketika dimana Adi mendapat promosi dan kesempatan rotasi di perusahaan tempat dia bekerja.

Divisi baru dimana Adi mendapat kesempatan rotasi adalah divisi pengadaan dan pembelian. Divisi basah kata banyak orang. Kalau menurut saya, basah saja tidak cukup menggambarkan kondisi yang sebenarnya dari situasi divisi ini di perusahaan tempat Adi bekerja. Adalah sudah menjadi sebuah kelaziman, setelah beberapa tahun menduduki jabatan di divisi tersebut, orang mampu membeli rumah di sebuah kawasan elit di daerah Jakarta Selatan, yang lebih dikenal sebagai kawasan Pondok Indah. Jadi basah saja tidak cukup, mestinya basah kuyup menurut ukuran saya.

Setelah lama tak dengar kabarnya, sebuah kabar mencengangkan sampailah ke telinga saya. Seolah menguatkan pilihan gambaran tentang jabatan dan divisi barunya yang basah kuyup itu tadi, Adi bercerita bahwa dalam satu triwulan, penghematan belanja yang dapat dilakukannya sebesar kurang lebih lima milyar rupiah katanya. Luar biasa. Bentuk apresiasi yang diterimanya terhadap prestasi penghematan belanja tersebut juga luar biasa. Dia dapati kaca belakang mobilnya dipecah orang di suatu sore ketika hendak pulang.

Adi juga bercerita bahwa sebuah ajakan makan siang dari salah satu Supplier perusahaannya ditolaknya, padahal ajakan ini dilakukan pas di jam makan siang dan tidak dilakukan dalam sebuah frekuensi yang bisa disebut “keseringan”. Dia takut ini ntar jadi sebuah kasus “conflict of interest”. “Apa yang saya terima dari perusahaan sudah cukup bagi saya dan keluarga”, itu katanya. Macam Warren Buffet saja kataku kepadanya.

———xx0O0xx———

Pernah dengar orang memberikan sejumlah uang per bulan kepada orang lain karena orang tersebut mau membuka sebuah rekening bank, akan tetapi buku tabungan dan kartu ATMnya tidak dalam pegangannya, alias dalam kuasa orang yang memberikan uang bulanan itu?. Saya pernah mendengarnya, akan tetapi susah dan bahkan tak mampu saya untuk membuktikannya. Meminjam istilah Pak Fuad Bawazier, seperti yang pernah dikutip oleh inilah.com, ini macam “tim kentut”. Terasa dampaknya, susah membuktikannya.

Kabar yang saya dengar, transaksi semacam ini dilakukan untuk mengakali kepandaian lembaga-lembaga yang berwenang, termasuk PPATK, untuk melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan kasus gratifikasi di proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan pemerintahan, termasuk BUMN dan Swasta. Sekali lagi, benar atau tidaknya, saya tidak bisa mempertanggung-jawabkannya. Tapi kalau memang seperti itu kejadiannya, kemungkinan besar ini jelas kasus “conflict of interest”. Terlepas berapa besar gratifikasi yang diberikan, kan ada aturannya. Misalkan kalau berupa barang, jika harga barang tersebut melebihi sebuah angka, laporan harus diserahkan ke lembaga yang terkait, demikian pula kalau berupa uang, pasti ada juga angka batasannya. Tapi saya bener kan?, memang ada aturannya kan?

———xx0O0xx———

Isu-isu seputar Neolib vs Kerakyatan, kebersahajaan dan kesederhaan telah banyak dibahas di mana-mana, bahkan isu Neolib sempat membuat Rizal Mallarangeng sebagai juru bicara pasangan SBY-Boediono sewot karenanya, tampaknya isu tersebut belum juga akan reda. Isu-isu baru juga sudah mulai menjadi wacana, seperti kasus BLBI, kekayaan Prabowo yang tak akan mampu beliau habiskan sendiri, termasuk bagaimana Prabowo mendapatkan dan membelanjakannya.

Tulisan ini tentang “conflict of interest” yang oleh pasangan SBY-Boediono disebut-sebut dalam pendeklarasian mereka. Nampaknya pembahasan tentang apa itu sebenarnya “conflict of interest”, bagaimana supaya ia dimengerti dan dipahami oleh rakyat jelata, apa saja batasan-batasannya, beserta alasan-alasan kenapa ia harus dihindari, dan siapa sih yang mempunyai “conflict of interest” dalam menjalankan tugasnya, dalam kasus apa, sampai ungkapan ini menjadi bagian dari pidato pendeklarasian, masih belum mendapatkan porsinya, setidaknya itu menurut rakyat jelata seperti saya.

Kembali ke pertanyaan saya, “CONFLICT OF INTEREST ITU APA SEBENARNYA?”.

Mohon pencerahannya.



Read more...

Thursday, May 21, 2009

ALUTSISTA DALAM RENCANA PEMBANGUNAN 2004 – 2009

Duka mendalam mengiringi doa saya untuk para korban, keluarga, TNI Angkatan Udara, dan tentu saja kita sebagai sebuah bangsa. Semoga arwah para korban diterima oleh Allah SWT sesuai dengan amal baiknya dan bagi mereka yang ditinggalkan dapat menghadapinya dengan penuh ketabahan. Dan untuk kita sebagai bangsa bersama-sama melakukan langkah-langkah semestinya sehingga kejadian tragis seperti ini tidak berulang di kemudian hari.

Seperti dikutip oleh Kompas.com, Menhan Yuwono Sudarsono menyatakan bahwa anggaran pertahanan yang turun dari tahun ke tahun mengakibatkan pengadaan alat utama sistem senjata baru bagi TNI tidak dapat dilakukan. Sedangkan untuk pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem senjata yang ada, hanya tersedia di bawah sepuluh persen dari alokasi yang diberikan."Idealnya, untuk pemeliharaan dan perawatan dananya sekitar 20 hingga 25 persen dari alokasi anggaran yang ada. Sekarang nyatanya hanya dibawah sepuluh persen," ungkap Juwono.

Berikut ini adalah sasaran-sasaran pembangunan dalam hal peningkatan kemampuan pertahanan negara seperti yang tertulis di bab 7 dari Peraturan Presiden no 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004 -2009.

1. Tersusunnya Rancangan Postur Pertahanan Indoneisa berdasarkan Strategic Defense Review (SDR) dan Strategi Raya Pertahanan dalam periode 2005–2006 yang disusun sebagai hasil kerjasama civil society dan militer;

2. Meningkatnya profesionalisme anggota TNI baik dalam operasi militer untuk perang maupun selain perang;

3. Meningkatnya kesejahteraan prajurit TNI terutama kecukupan perumahan, pendidikan dasar keluarga prajurit, jaminan kesejahteraan akhir tugas;

4. Meningkatnya jumlah dan kondisi peralatan pertahanan ke arah modernisasi alat utama sistem persenjataan dan kesiapan operasional;

5. Meningkatnya penggunaan alutsista produksi dalam negeri dan dapat ditanganinya pemeliharaan alutsista oleh industri dalam negeri;

6. Teroptimasinya anggaran pertahanan serta tercukupinya anggaran minimal secara simultan dengan selesainya reposisi bisnis TNI;

7. Terdayagunakannya potensi masyarakat dalam bela negara sebagai salah satu komponen utama pertahanan negara.




Read more...

Monday, May 18, 2009

“Pak, kita minggu depan aja berenangnya”, Sebuah Pelajaran Dari Anakku

Minggu kemarin saya sekeluarga pergi ke sebuah hotel, dengan tujuan untuk menikmati promo brunch sebuah kartu kredit dan berenang di kolam hotel tersebut. Reservasi sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan pada saat melakukannya jelas sudah bahwa berenang merupakan bagian dari promo tersebut.

Minggu pagi, anak-anak bersemangat sekali mengetahui bahwa mereka akan diajak berenang, tanpa mengetahui dimana mereka akan melakukannya. Nurut sekali mereka pagi hari itu…hehehehehe.

Sesampai di hotel, kami langsung menuju ke lokasi resto dan menemui waitressnya. Reservasi sudah pasti atau konfirm. Karena waktu penyajian masih lama, seperti rencana semula, kami pun ingin berenang. Entah karena saya salah strategi atau bagaimana, he he he, waitressnya bilang bahwa kolam renang hanya untuk tamu hotel. Betul bahwa promo brunch ini termasuk berenang, akan tetapi voucher berenangnya hanya akan diberikan setelah kami menikmati brunch dan digunakan untuk pada kesesempatan atau kunjungan kami berikutnya. Ini strategi marketing mereka dalam hati saya.

Melihat perubahan muka dan mood anak-anak, maklum mereka nurut sekali pagi hari tadi karena janji berenang itu tadi, saya pun mencoba memutar otak. Sambil berpikir, saya mengajak mereka jalan-jalan di seputaran kolam dan taman, siapa tahu dapat ide brilian.

“Kok cuma muter-muter aja sich Pak?, kapan berenangnya?”, akhirnya saya berikan penjelasan kepada mereka, walaupun saya tahu mereka sendiri mendengar pembicaraan saya dengan waitress tadi, bahwa kita diperbolehkan berenang jika kita mempunyai vouchernya, dan kita belum punya. Itu masalahnya, tapi jangan ngambek dulu, Bapak akan coba cari caranya.

Akhirnya saya dapat caranya. Setelah berdiskusi sebentar dengan penjaga kolam renang, sebuah konsensus berdasar sebuah pengertian pun kami dapatkan, tanpa melibatkan uang, benar-benar bermodalkan sebuah kesepahaman. Saya pun melangkah gembira mendekati anak-anak saya yang duduk di pinggir kolam dengan muka yang ditekuk. “Ayo kita berenang sekarang,” ajak saya. “Emang Bapak punya vouchernya?, nggak punya kan?, udah lah Pak, kita minggu depan aja berenangnya,” kata anak saya. “Nggak papa Nak, Bapak udah bicara-bicara sama abangnya, boleh kok kata dia”, jawab saya mencoba meyakinkannya. “Pak, kan kita nggak punya vouchernya, berarti kita nggak berhak berenang di sini,” diulanginya pernyataan yang sama.

Saya tak mencoba untuk memaksakannya, toh waktu brunch-nya tinggal sebentar lagi, kemudian saya ajak mereka menikmati fasilitas play ground yang ada di sekitar kolam. Bermainlah mereka berdua dengan senangnya, sementara saya berdua dengan ibunya duduk manis di sebuah bangku sambil menikmati sisa pagi hari minggu itu.

Terpikir juga rasa jengkel saya kepada anak-anak, Bapak sama Ibunya sudah berusaha, pengertian dan kesepahaman sudah didapatkan, eeee malah ditolak sama anak-anak dengan alasan hak, sebuah logika sederhana anak-anak, karena tidak punya voucher, berarti tidak berhak.

Di tengah kejengkelan saya, sembari duduk manis bersama istri, saya teringat sebuah cerita. Tentang seorang pensiunan Letnan Kolonel buta yang sangat sinis terhadap lingkungannya dan bahkan dirinya sendiri. Perjalanan karir militernya sudah sedemikian dekat dengan pucuk kekuasaan, karena satu dan lain hal, dia gagal mendapatkannya. Tapi saya tak hendak bercerita tentang pribadi dia. Penolakan anak saya dan pidato si Letnan Kolonel ini yang berkecamuk di pikiran saya.

Seorang anak muda dalam sebuah sidang komite disiplin di tempatnya berkuliah, sebuah tempat kuliah bergengsi, dimana banyak pemimpin negeri telah dilahirkannya. Tuduhannya adalah dia menjadi otak sebuah tindakan yang mempermalukan sang Rektor di depan seluruh isi kampus. Dalam sidang komite disiplin tersebut si Letnan Kolonel sempat memberikan pidato pembelaannya.

“Anak ini tidak mau menjual masa depannya, dan ini saudara-saudara adalah apa yang saya sebut sebagai integritas, keberanian. Sebuah kombinasi dari keduanya yang seharusnya membentuk pemimpin-pemimpin kita. Sudah sering bahkan berkali-kali saya harus berhenti di persimpangan dalam kehidupan saya. Saya selalu tahu dan sadar mana jalan yang benar, tapi saya tak pernah mengambilnya. Anda tahu kenapa?, karena jalan itu terjal dan mendaki. Sementara anak ini, dia sedang berhenti di persimpangan, dia sudah memutuskan jalannya, jalan yang benar, jalan yang dilandasi oleh sebuah prinsip, yang menunjukkan dan membentuk karakternya. Berilah kesempatan padanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya”.

Aaah, akting Al Pacino dalam Scent of a Woman memang sungguh luar biasa dan entah kenapa sangat susah mencari pelajaran seperti itu di tengah hingar bingar politik negeri tercinta. Saya dekati anak saya, saya usap rambutnya, saya pandang kedua matanya, “Nak, terima kasih atas pelajarannya,” sambil saya cium keningnya.

Saya lihat ibunya, jangan-jangan dia juga minta….hahahahahaha

Ini link video speechnya Al-Pacino dalam Scent of a Woman
http://www.youtube.com/watch?v=dH4p9BQ3V9o


Read more...

Friday, May 15, 2009

BOEDIONO - INDONESIA MENGGUGAT

Seolah menjawab pertanyaan banyak orang, kenapa Bandung dipilih sebagai kota dimana deklarasi pasangan SBY ber BUDI dilangsungkan, Boediono dalam pidatonya menyinggung sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Di kota Bandung ini Bung Karno membacakan pembelaanya di depan hakim kolonial Belanda dengan judul INDONESIA MENGGUGAT”, demikian katanya.

Berikut adalah penggalan pembelaan Bung Karno yang diberinya judul INDONESIA MENGGUGAT;

…kami menyerahkan segenap raga dengan serela-relanya kepada tanah air dan bangsa, juga kami menyerahkan segenap jiwa kepada Ibu Indonesia dengan seikhlas-ikhlasnya hati. Juga kami adalah mengabdi kepada suatu cita-cita yang suci dan luhur, juga kami adalah berusaha ikut mengembalikan hak tanah air dan bangsa atas peri kehidupan yang merdeka. Tiga ratus tahun, ya walau seribu tahunpun, tidaklah bisa menghilangkan hak negeri Indonesia dan rakyat Indonesia atas kemerdekaan itu. Untuk terlaksananya hak ini maka kami rela menderitakan segala kepahitan yang dituntutkan oleh tanah air itu, rela menderitakan kesengsaraan yang dimintakan oleh Ibu Indonesia itu setiap waktu.

Memang tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, Ibu Indonesia, adalah mengharap dari semua putera-putera dan puteri-puterinya pengabdian yang demikian itu, penyerahan jiwa-raga yang tiada batas, pengorbanan diri walau yang sepahit-pahitnyapun kalau perlu, dengan hati yang suci dan hati yang ikhlas. Putera-putera dan puteri-puteri Indonesia haruslah merasa sayang, bahwa mereka untuk pengabdian ini, masing-masing hanya bisa menyerahkan satu badan saja, satu roh saja, satu nyawa saja, --dan tidak lebih.

Menjawab kontroversi tentang pencalonannya, stigma neolib terutama, Boediono berkata, "Perekonomian kita tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada pasar bebas. Selalu diperlukan intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil. Pemerintahan harus berjalan cepat,tepat dan akuntabel. Itulah yang harus diselenggarakan negara. Negara juga tidak boleh terlalu campur tangan, tapi negara juga tidak boleh tidur. Untuk itu diperlukan pemerintahan yang bersih. Dan pemerintah yang bersih itu tidak bisa dipidatokan. Pemerintahan yang bersih harus dimulai dengan ketauladanan dan kepemimpinan, Dan Indonesia butuh pemimpin yang tidak memperdagangkan kekuasaan”

Boediono juga mengungkapkan bahwa korupsi telah menggerogoti efektifitas negara dan bahwa pemberantasan korupsi harus terus dijalankan. Boediono sadar bahwa dalam pemberantasan korupsi ini kerja belum selesai. sebuah langkah yang tegas harus diambil

Pidato Boediono diakhiri dengan pernyataannya,"Saya siap bekerja mulai hari ini". Inilah INDONESIA MENGGUGAT jilid dua seolah itu teriakannya.

Pak Boediono, Selamat Bekerja




Read more...

TO MEASURE IS TO KNOW;Bagaimana Mengukur Performa Sebuah Pemerintahan?

Sebuah diskusi kecil2an sering kami adakan di pagi hari sebelum tancap gas dengan day-to-day business di kantor. Kita menyebut diskusi ini sebagai Forum Negara Pancasila, persis seperti judul sebuah acara radio pada era 80-an. Bagaimana kabar si Bapak pengisi acara itu ya? Siapa sih namanya?, Masih ingatkah anda? Namanya Bapak Tejo Sumarto SH, saya jadi kangen dengar suaranya.

Dalam salah satu diskusi kecil2an itu topik yang dibahas adalah bagaimana mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan sebuah pemerintahan? Apakah mungkin menggunakan prinsip atau metode yang sering dipakai dalam mengukur keberhasilan atau kegagalan sebuah perusahaan? . Jikalau sebuah perusahaan menggunakan Key Performance Indicator (KPI) sebagai alat untuk mengukurnya, terus apa dong KPI sebuah pemerintahan?. Jika sebuah perusahaan menggunakan bottom line atau profit margin sebagai ukuran, kan sebuah pemerintahan tidak mengenal yang namanya bottom line atau profit margin. Jadi bagaimana mengukur keberhasilan sebuah pemerintahan?

Bagaimanapun mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan itu perlu dan wajib hukumnya. Dengan mengukurnya, kita membuka pintu untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Persis seperti apa yang pernah dinyatakan oleh Lord Kelvin, seorang ilmuwan Inggris dengan pernyataannya, “if you can not measure it, you can not improve it”. Karena kita punya niat untuk memperbaiki keadaan, mestinya kita harus bisa dan mau mengukur keberhasilan atau kegagalan kita, dan ini berlaku juga untuk sebuah pemerintahan. Bukankah sebuah pemerintahan mendapatkan mandat untuk memperbaiki keadaan?.

Pada tahun 1993, Kongres Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang yang mereka sebut sebagai Government Performance and Results Act (GPRA). Undang-undang ini mengamanahkan setiap federal agensi untuk membuat Rencana Strategis jangka panjang yang mendefinisikan tujuan dan obyektif dari program-program yang mereka kerjakan, membuat Rencana Pencapaian tahunan yang mencantumkan pencapaian tujuan yang “terukur” dari semua program yang dianggarkan oleh lembaga pemerintah serta membuat laporan tahunan tentang pencapaiannya. GPRA ini mengubah fokus lembaga-lembaga pemerintahaan dari yang sebelumnya berfokus kepada “akuntabilitas terhadap proses” menuju ke “akuntabilitas dari hasil pencapaian.”

Bagaimana dengan Indonesia?, Peraturan Presiden (PerPres) no 7 tahun 2005 menjabarkan visi, misi, strategi, agenda beserta prioritas pembangunan nasional tahun 2004 – 2009. Dalam PerPres tersebut dinyatakan bahwa ada tiga agenda utama yang terdiri dari agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis dan agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Menurut Paskah Suzeta pada acara pembukaan Musyawarh Perencanaan Pembangunan Nasional, Selasa 12 Mei 2009 kemarin, secara garis besar pelaksanaan agenda-agenda tersebut memberikan hasil yang positif. Agenda pertama, telah dilaksanakan dengan baik di mana saat ini kondisi ekonomi jauh lebih baik dibandingkan awal pemerintahan. "Kita dihadapi berbagai kelompok di Aceh, Papua, Maluku utara, dan Poso. Sekarang ini tidak terjadi lagi," katanya. Aksi terorisme juga telah berkurang.
Kedua, berhasilnya pemberantasan korupsi. Diperlihatkan dengan meningkatnya indeks korupsi (IPK) dari 1,9 pada 2004 menjadi 2,6 pada 2008. Dari sisi demokrasi telah dicapai pelaksanaan Pilkada di seluruh daerah tingkat I dan dua yang berlangsung aman. Masyarakat juga telah memperoleh kebebasan informasi yang beragam. Agenda ketiga, setelah krisis moneter 1998 yang sempat melumpuhkan ekonomi Indonesia dari minus 13 persen, ekonomi kini tumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi bahkan membaik sampai mencapai pertumbuhan tertinggi diatas 6 persen pada 2008 lalu.

Jikalau ditelusuri lebih lanjut, Peraturan Presiden tersebut di atas lengkap dengan lampirannya tentu saja, banyak hal yang belum tercakup oleh pidato Paskah Suzeta. Contoh sasaran-sasaran pembangunan itu antara lain adalah terungkapnya jaringan utama pencurian sumber daya kehutanan, serta membaiknya praktek penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya kehutanan dalam memberantas illegal logging, over cutting, dan illegal trading; menurunnya kekuatan OPM dan melemahnya dukungan simpatisan OPM di dalam dan luar negeri; jumlah dan kondisi peralatan pertahanan ke arah modernisasi alat utama sistem persenjataan dan kesiapan operasional; evaluasi terhadap Rencana Aksi Hak Asasi Manusia 2004–2009; Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi; Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak; Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak; dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015; dan masih banyak lagi.

Maklum dalam pidato pembukaan sebuah acara yang agenda dan waktunya terbatas, tentu saja tidak semua pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dapat disampaikan. Termasuk didalamnya sasaran-sasaran pembangunan yang menggunakan ukuran kualitatif dalam pendeskripsiannya.

Kembali ke Lord Kelvin. Lord Kelvin juga pernah menyatakan bahwa “when you can measure what you are speaking about, and express it in numbers, you know something about it; but when you cannot measure it, when you cannot express it in numbers, your knowledge is of a meagre and unsatisfactory kind”.

Jadi jika Paskah Suzeta menyatakan bahwa pemerintahan SBY-JK dibantu para Menteri Kabinet Bersatu telah berhasil memajukan Indonesia, bagaimana menurut anda?




Read more...